Sejak tahun 1980-an seni lukis tradisional Bali lahir dari aneka komunitas. Dalam setiap komunitas tegak seorang guru. Komunitas ini lalu merangsang lahirnya komunitas baru, dan memunculkan sangat banyak pelukis baru. Dengan begitu, mitos "guru tunggal" seperti yang diperankan Rudolf Bonnet, sudah kikis.
Memahami karya seni tidak cukup dilakukan hanya dengan menikmati unsur estetikanya. Dalam kenyataan, produk seni indah seperti karya ukir di Maluku justru lebih diarahkan untuk "berkomunikasi", termasuk dengan Tuhan. Karenanya, aspek ritual dan spiritual pun menjadi lebih dominan.