/home/oivyqlji/public_html/lib/SearchEngine/SearchBiblioEngine.php:688 "Search Engine Debug 🔎 🪲"
Engine Type ⚙️: "SLiMS\SearchEngine\SearchBiblioEngine"
SQL ⚙️: array:2 [ "count" => "select count(sb.biblio_id) from search_biblio as sb where sb.opac_hide=0 and (sb.call_number LIKE :callnumber)" "query" => "select sb.biblio_id, sb.title, sb.author, sb.topic, sb.image, sb.isbn_issn, sb.publisher, sb.publish_place, sb.publish_year, sb.labels, sb.input_date, sb.edition, sb.collation, sb.series_title, sb.call_number from search_biblio as sb where sb.opac_hide=0 and (sb.call_number LIKE :callnumber) order by sb.last_update desc limit 10 offset 100" ]
Bind Value ⚒️: array:1 [ ":callnumber" => "7%" ]
Sejak tahun 1980-an seni lukis tradisional Bali lahir dari aneka komunitas. Dalam setiap komunitas tegak seorang guru. Komunitas ini lalu merangsang lahirnya komunitas baru, dan memunculkan sangat banyak pelukis baru. Dengan begitu, mitos "guru tunggal" seperti yang diperankan Rudolf Bonnet, sudah kikis.
Memahami karya seni tidak cukup dilakukan hanya dengan menikmati unsur estetikanya. Dalam kenyataan, produk seni indah seperti karya ukir di Maluku justru lebih diarahkan untuk "berkomunikasi", termasuk dengan Tuhan. Karenanya, aspek ritual dan spiritual pun menjadi lebih dominan.